Namunnama Kuda Lumping merupakan sebutan Read more. December 28, 2020 August 28, 2013 by outline. Tarian Kuda Lumping pada dasarnya menampilkan kesan sekelompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Hanya saja kuda yang dimaksud terbuat dari bambu yang dianyam dan dipotong hingga menyerupai bentuk kuda dan prajurit tersebut bergerak kompak

Origin is unreachable Error code 523 2023-06-14 170423 UTC What happened? The origin web server is not reachable. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Check your DNS Settings. A 523 error means that Cloudflare could not reach your host web server. The most common cause is that your DNS settings are incorrect. Please contact your hosting provider to confirm your origin IP and then make sure the correct IP is listed for your A record in your Cloudflare DNS Settings page. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d7426d30ba70e33 • Your IP • Performance & security by Cloudflare

MenurutAgus Dwi Handoko dan Septina Alrianingrum dalam "Perkembangan Seni Tari Jaranan Buto di Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi Tahun 1963-2007" dimuat jurnal AVATARA, simbol kuda dalam kesenian jaranan memiliki nilai filosifis sebagai semangat perjuangan, keperkasaan, dan jiwa ksatria.Simbol kuda ini juga dikenal oleh suku-suku di seluruh dunia.
Mantra Memanggil Endang Kuda Lumping. Kuda lumping atau jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit dengan menunggang kuda. Tarian tradisional ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang sudah dibentuk menyerupai kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. Dalam pertunjukan kuda lumping menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling, memakan ayam dan kekebalan tubuh seperti dipecut, kebal benda tajam dan sebagainya. Konon, tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda reyog abad ke 8. Kesenian Kuda Lumping lahir dari Puluhan bahkan Ratusan tahun yang lalu, dimana pada jaman itu animisme dan dinamisme lah yang mengiringi hidup bangsa kita, dan tidak heran jika pada kesenian ini kita masih melihat Kembang, Menyan, dupa dll. Kita tidak berhak mengklaim bahwa kesenian tersebut perbuatan musyrik, karena pada dasarnya obarampe kuda lumping hanya sebagai pelengkap sugesti kepada penari supaya mereka lebih yakin dan menghayati perannya masing masing. Kuda Lumping biasanya diawali dengan ritual, seluruh anggota termasuk penari dibawa oleh sesepuh ke sebuah pemakaman orang besar yang dulu pernah hidup sebagai Tokoh atau panutan masyarakat. Ritual ini pada dasarnya adalah meminta do'a restu dari Leluhur untuk meneruskan budhaya kita,. orang dulu menyebut ini dengan istilah mertamu dan mengirim do'a ke makam Ziarah atau orang jawa biasa menyebut Sowan. namun seiring perkembangan jaman, ternyata pikiran tidak rasional menganggap bahwa datang ke makam datang dengan tujuan meminta agar tubuh mereka dapat dimasuki Roh / Setan. Hal yang paling ditunggu saat pertunjukan kuda lumping adalah atraksi dan kesurupan dari para pemain kuda lumping. para pemain kuda lumping kesurupan dimana mereka kehilangan kesadaran seolah olah kemasukan syetan atau jin. Agar para penari kuda lumping mengalami kesurupan maka si pawang kuda lumping memanggil endang kuda lumping. endang adalah energi yang dapat merubah pola pikir atau memberi sugesti kepercayaan diri kepada penari, Endang kuda lumping bukan setan melainkan sebuah energi yang muncul dan timbul dari pikiran manusia itu sendiri. Berikut ini cara memanggil endang kuda lumping. Mantra Memanggil Endang Kuda Lumping Tanpa Puasa Mantra ini sudah turun temurun digunakan oleh para leluhur pawang kuda lumping untuk memanggil endang kuda lumping agar para penarinya kesurupan. Syarat Memanggil Endang Kuda Lumping Niat dalam hati kusuk dalam membaca konsentrasi usahakan kalau di pentasan kuda lumping lakukan di dekat kendang kalau di tempat sepi usakan ada teman agar waktu kesurupan ada yang mengawasinya. Doa dan Mantra Memanggil Endang Kuda Lumping Bissmillahirrohmanirrohiim Assalamualaikum Sugeng rawuh poro simbah sesepuh Niat ingsun manjing ingkang kulo si jabang bayine nama mu badhe ngundang sang hiyang moyo kakang kawah adi ari ari papat jejer kalimo pancer ingsun .ingkang kulo aturi rawuh simbah nama khodam ing jero badan ingsun krono allah tangala amien 23 x Demikian artikel tentang Mantra memanggil endang kuda lumping, semoga dapat menumbuhkan rasa cinta dan menghargai terhadap budaya peninggalan leluhur. sehingga budaya kita tidak bisa di claim ata diakui oleh negara lain. terimakasih Semuasumber Kuda Lumping ini untuk diunduh. Gunakan Kuda Lumping PNG gratis ini untuk desain web, desain DTP, selebaran, proposal, proyek sekolah, poster, dan lainnya. Hubungi pengunggah untuk mendapatkan lebih banyak manfaat seperti lisensi bisnis, penyesuaian yang dipersonalisasi, resolusi tinggi yang lebih baik, berbagai format file, dan
Nama Bayi Berdasar Huruf Depan A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z Nama yang Anda cari yaitu Endang memiliki banyak arti dari berbagai asal bahasa, Kami menghimpun dan menyimpan beberapa arti nama dari Endang, diantaranya adalah berasal dari bahasa jawa, sunda, dan indonesia yang masing-masing bahasa memiliki arti yang berbeda, nama Endang juga cocok untuk dijadikan nama untuk bayi Anda yang berjenis kelamin perempuan maupun nama untuk bayi Anda memang gampang-gampang susah dan mohon untuk tidak asal asalan, sebab Nama akan menjadi identitas seumur hidup untuk anak Anda. Jika Anda sudah memiliki ide untuk nama bayi Anda, tidak salahnya mencoba untuk melakukan pengecekan dan mencari tahu lebih detail untuk arti dari nama tersebut. Seperti halnya dengan nama Endang, mungkin juga nama tersebut memiliki arti lain dari asal bahasa yang berbeda pula. Baca Juga
Kudalumping adalah kesenian tradisional jawa yg Sampai saat ini masih banyak di gemari di daerah saya yg berada di labuhan batu Selatan
Tari Kuda Lumping. Foto Kuda Lumping merupakan seni pertunjukan dari daerah pulau Jawa. Namun, pertunjukan tari rakyat ini memang lebih populer di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tarian ini juga dikenal dengan nama Jathilan Yogyakarta, Incling, Kuda Kepang, atau Jaran Jathilan berasal dari kata “jan” yang artinya amat, dan “thil-thilan” yang artinya banyak gerak. Hal ini merujuk pada gerak kuda yang sangat banyak .Melansir pada awalnya tari Kuda Lumping hanya digunakan dalam acara ritual saja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Kuda Lumping juga menjadi seni pertunjukan. Karena itu, gerakan, busana, iringan musik, serta propertinya berbeda dengan zaman Kuda Lumping merupakan pertunjukan yang menggambarkan situasi saat sekelompok prajurit hendak pergi berperang dengan menunggang kuda dan membawa pedang sebagai hanya prajurit saja, terdapat sejumlah peran lain dalam pertunjukan tari Kuda Lumping, yaitu penari bertopeng putih berperan sebagai Penthul atau Bancak, sedangkan yang bertopeng hitam bernama Bejer Tembem atau Doyok. Keduanya bertugas sebagai penghibur prajurit yang sedang beristirahat, dengan cara menari, menyanyi, dan tari Kuda Lumping biasa dilakukan pada malam ataupun siang hari. Tempat pertunjukannya berbentuk arena dengan lantai lingkaran atau berbentuk lurus. Vokal hanya diucapkan oleh Penthul dan Bejer dalam bentuk dialog dan Kuda Lumping memiliki kaitan yang erat dengan hal-hal berbau supranatural. Bahkan, hal yang ditunggu-tunggu oleh penonton saat menyaksikan tari Kuda Lumping ialah atraksi dari penari yang “kerasukan”. Penari tersebut bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dalam keadaan sadar, misalnya memakan beling. Namun, kini hal tersebut sudah jarang dilakukan sebab sudah beralih fungsi hanya sebagai bentuk hiburan pertunjukan tari Kuda Lumping dilakukan oleh sekitar 25 orang, di mana 20 orang berperan sebagai penari, 10 orang bertugas sebagai penabuh instrumen, 4 orang sebagai pembantu umum atau penjaga keamanan, dan 1 orang sebagai koordinator yang mengatur jalannya pertunjukan dari awal sampai sendiri terdiri dari 2 kuda pasangan penari terdepan yang berwarna putih, 8 pasangan lainnya berwarna hitam, dan 2 pasangan baris belakang yang berukuran lebih kecil atau dalam bahasa Jawa disebut dengan belo anak kuda. Penari yang menggunakan kuda kecil harus lebih lincah agar memunculkan kesan kekanak-kanakan dan sebagai pembeda dari penari yang menaiki kuda pengiring tari Kuda Lumping terdiri dari 3 buah angklung, 3 buah bendhe gong, kepyak setangkep, dan sebuah kendang. Namun, saat ini lebih banyak menggunakan instrument kendang, bendhe, gong, gender, dan busananya sendiri, para penari menggunakan baju atau kaus, rompi, celana panji, stagen, dan timang dengan dilengkapi aksesori berupa blangkon atau ikat kepala, dan kacamata Kuda Lumping. Foto dalam Pertunjukan Tari Kuda LumpingAda 4 babak dalam petunjukan tari Kuda Lumping, yaituBabak ini dilakukan sebanyak dua kali. Biasanya, babak Buto Lawas hanya dibawakan oleh penari laki-laki berjumlah 4-6 orang. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan bergerak mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari seringkali mengalami kesurupan atau babak ini, seluruh penari baik perempuan maupun laki-laki bergabung untuk membawakan tari babak ini, enam orang perempuan membawakan tari Begon Putri dengan gerakan-gerakan yang lebih santai. Tarian ini menjadi tarian penutup dalam seluruh rangkaian atraksi tari Kuda Lumping.
Sebelumjalan kuda-kuda tersebut diberikan mantra-mantra terlebih dahulu agar mau makan rumput dan beling, sang raja gembira keinginanya terwujud, dari sanalah kemudian nama kuda lumping berasal. Kesenian kuda lumping populer di masyarakat daerah Jawa Timur, seperti Blitar, Malang, Tulung Agung dan sekitarnya (baca:kebudayaan jawa).

1. Nama Teguh Usia 14 Tahun Jabatan anggota penari Pekerjaan Pelajar SMP N 5 Padang Bolak Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Saat peneliti mencari satu persatu anak-anak yang menjadi anggota kuda lumping di sanggar pimpinan Mbah Mo, maka yang pertama sekali ditemukan adalah Teguh. Peneliti bertemu dengan Teguh tepat di kediaman Teguh. Saat itu, Teguh sedang memberi makan sapi-sapinya, dan peneliti menghampiri Teguh ke kandang sapi yang berada di samping rumahnya. Peneliti menunggu sampai Teguh selesai mengerjakan pekerjaanya tersebut. Setelah selesai barulah peneliti menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya kepada Teguh. Dengan wajah yang malu-malu Teguh pun bersedia untuk di wawancarai oleh peneliti. Teguh adalah anak ke tiga dari lima bersaudara dan sedang duduk di kelas VIII B Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Padang Bolak. Teguh sudah 1 tahun menjadi anggota kuda lumping. Awalnya Teguh tidak meminta izin kepada orang tuanya untuk ikut menjadi anggota kuda lumping karena takut tidak diberi izin, namun saat pertama kalinya Teguh sedang bermain kuda lumping bersama sanggar Turonggo Madiyo Budoyo, kakak Teguh melihat dan melaporkan Teguh kepada Orang Tuanya. Selesai pertunjukan, Teguh langsung di bawa pulang oleh orang tuanya. Pada akhirnya orang tua Teguh memberi izin menjadi anggota kuda lumping dengan syarat tidak boleh menjadi yang kesurupannya dan Teguh menepati janjinya sampai sekarang. Teguh menjadi anggota kuda lumping karena ia tertarik dengan tarian dan atraksi kuda lumping yang kesurupan dan ingin memiliki endang. Selain itu, alasan ia ingin melestarikan dan menjaga kesenian Jawa serta untuk menghibur orang lain. Ia tidak takut menentang orang tuanya, karena ia ingin melestarikan kesenian jawa jadi untuk apa dilarang-larang. Di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo ia sangat diterima dengan tangan terbuka dan sangat mudah memahami tarian-tarian kuda lumping. Sebagai anak yang masih duduk di bangku sekolah, ia lebih memilih menikmati perannya untuk lebih mementingkan kegiatan kuda lumping. Menurut Teguh, belajar dan memahami segala bentuk kegiatan yang ada di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo tidaklah susah dan membuat kepala pening serta tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mempraktekannya langsung. Tidak seperti belajar di sekolah, sudah lama waktunya terus pelajaran yang diterima pun sulit-sulit semua. Berbicara mengenai peraturan sekolah dan peraturan di sanggar, Teguh lebih mematuhi peraturan yang ada disanggar hal ini karena peraturan sanggar hanya meminta agar tepat waktu datang saat latihan dan pertunjukkan berlangsung, jika pun sesekali melanggar peraturan, pimpinan sanggar hanya menegurnya saja. Hal ini berbeda dengan peraturan sekolah yang banyak menuntut siswanya, dan jika dilangggar sekali langsung diberi hukuman seperti mangambil sampah atau menyapu ruangan kepala sekolah. 2. Nama Mugiyono Adi Riyanto Usia 15 tahun Jabatan Penari dan Yang Kesurupan Pekerjaan - Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Mugiyono baru saja menetap di desa Batang Pane III selama 8 bulan. Ia berasal dari Jawa Tengah. Awal mula kedatangan Mugi ke Desa BAtang Pane III hanya untuk bersilaturahmi kepada saudara- saudaranya yang sudah lama menetap di Desa Batang Pane III. Mugi lulusan Sekolah Menengah Pertama tahun 2011. Mugi tertarik dengan sanggar Turonggo Madiyo Budoyo dan ikut menjadi anggota kuda lumping di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo selama 6 bulan. Meskipun baru 6 bulan menjadi anggota kuda lumping di sanggar tersebut, Mugi di Jawapun sudah menjadi anggota kuda lumping selama 3 tahun. Menurut hasil wawancara peniliti dengan Mugi, alasan ia ikut menjadi anggota kuda lumping pada awalnya ia menonton pertunjukan kuda lumping yang ada di lingkungan rumahnya. Ia sangat tertarik dengan orang yang kesurupan di kuda lumping, bisa makan ayam hidup-hidup, makan bara api maka timbulah keinginan ia menjadi anggota kuda lumping. Tidak ada perbedaan yang menonjol dari sanggar waktu ia menjadi anggota kuda lumping di Jawa dan di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo. Hanya perbedaan waktu jam latihan saja dan tahapan ritual yang ia temukan. Adapun tahapan ritual waktu di jawa berupa tidak boleh mempermainkan perasaan cewek, puasa 7 hari 7 malam dan hanya makan nasi putih dan air putih saja. Sementara tahapan ritual yang harus di jalani ia di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo adalah selain puasa 7 hari 7 malam, setiap anggota harus mandi kembang 7 warna dan mandi tengah malam di tengah sungai yang mengalir serta tidak boleh tidur dari jam 6 sore sampai 6 pagi setiap jum’at kliwon. Mugi tetap memberanikan diri meskipun orang tua tidak memberikan izin untuk menjadi anggota kuda lumping. Orang tua Mugi tidak menyetujui kesurupan yang ada di kuda lumping karena itu sudah menjadi Sesuatu yang syirik di agama islam. Karena alasan tidak akan melanjutkan sekolah lagi, akhirnya orang tua Mugi memberikan izin untuk menjadi anggota kuda lumping. Ketika masih duduk di bangku sekolah, Mugi lebih meluangkan waktu untuk belajar kuda lumping dari pada belajar di sekolah, bahkan saat di sekolahpun Mugi sering pura-pura kesurupan untuk menghibur teman-teman di sekolah dan pada malam jum’at kliwon mugi beserta teman lainya kerap kali mengundang roh halus sebagai hiburan mereka. Untuk menjadi yang kesurupan, Mugi sudah matang dan dikuasai penuh oleh endang yang membuatnya kesurupan. Ia bisa menjadi yang kesurupan sepenuhnya setelah 20 kali pertunjukan. Ia merasa senang dan puas bisa menjadi anggota kuda lumping karena bisa menghibur orang yang melihatnya dengan atraksi kesurupannya. Setelah pertunjukan selesai, ia merasakan sakit dan pegal-pegal di seluruh anggota tubuhnya akibat kesurupan tersebut. Rasa sakit dari kesurupan tersebut akan hilang dengan sendirinya selama dua atau tiga hari. Cukup banyak manfaat yang ia dapat selama menjadi anggota di sanggar, meskipun hanya baru masuk selama 6 bulan saja. Di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo ia mendapat rasa kekeluargaan antar anggota dan tidak adanya kesenjangan antara anggota yang baru masuk atau sudah lama menjadi anggota. 3. Nama Eko Hariyanto Ciplek Usia 11 tahun Jabatan Penari dan Yang Kesurupan Pekerjaan Pelajar Kelas V Sekolah Dasar Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Ciplek itulah panggilan yang sering di julukan masyarakat kepada Eko. Ciplek adalah singkatan dari Cilik Pendek Elek yang artinya kecil pendek jelek yang menggambarkan perawakan Eko. Ciplek anak pertama dari tiga bersaudara. Ciplek masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar Negeri Batang Pane III. Ciplek sudah menjadi anggota kuda lumping selama satu tahun. Menurut hasil wawancara peneliti dengan Ciplek memperoleh informasi bahwasanya awal mula Ciplek menjadi anggota kuda lumping karena rasa ingin dari dirinya untuk bisa bermain kuda-kudaan dan mengikuti jejak ayahnya yang telah lebih dulu aktif di keanggotaan kuda lumping. Izin oran tua sangat mudah ia dapatkan untuk menjadi anggota kuda lumping karena orang tua Ciplek juga menginginkan anaknya untuk dapat mewarisi kesenian tradisional jawa. Ciplek hanya membutuhkan waktu selama satu minggu untuk mempelajari tari-tarian dan dua minggu untuk bisa memiliki endang. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan yang ada di sekolah maupun peraturan yang ada di sanggar. Selama pertunjukkan, ia selalu menjadi anggota yang kesurupan karena endang yang dimilikinya sangat mudah untuk di panggil oleh pawang. Setiap pertunjukan kuda lumping, ia selalu memperoleh imbalan uang sebesar Rp. - Rp. / pertunjukan. Ia merasa puas dengan imbalan tersebut, karena selain mendapatkan uang yang dianggapnya sebagai uang jajan, ia juga memiliki endang yang bisa di jadikan sebagai penjaga diri dan penyelamat dimana pun ia berada. 4. Nama Putri Hidayati Usia 16 tahun Jabatan Penari Pekerjaan - Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Anak ke dua dari dua bersaudara ini terkesan ramah dan murah senyum ketika peneliti mendatangi rumahnya untuk melakukan wawancara. Putri itulah panggilannya. Peneliti langsung mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Putri. Dengan keterbukaanya dalam memberikan informasi sehingga peneliti banyak mendapatkan informasi dari Putri. Putri baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama pada tahun 2012, dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas karena keinginan ia untuk belajar sudah tidak begitu di perhitungkan lagi. Dalam hasil wawancara dengan Putri didapatkan informasi bahwa ia sudah menjadi anggota kuda lumping selama 4 tahun. Dalam waktu satu minggu ia sudah dapat menguasai segala jenis tarian yang di perlukan untuk pertunjukan kuda lumping. Tidak ada syarat khusus yang harus ia lakukan untuk menjadi anggota kuda lumping selain mematuhi peraturan yang ada di sanggar. Adapun peraturan yang harus dipatuhi di sanggar itu berupa datang latihan tepat waktu, tidak boleh jatuh cinta sesame anggota kuda lumping dan selalu bersedia untuk melakukan pertunjukan kuda lumping dimanapun dan kapanpun sanggar membutuhkannya. Alasan ia ikut menjadi anggota kuda lumping karena sudah menggemari kesenian tradisional Jawa, dan untuk lebih bisa mengetahui semua hal yang ada di kesenian kuda lumping. Ia sangat bangga menjadi anggota kuda lumping, karena dengan menjadi anggota lumping ia lebih bisa memahami salah satu kesenian tradisonal Jawa dan tetap bisa melestarikan kesenian tradisional Jawa meskipun berada di daerah perantauan. Selain itu, manfaat yang ia dapat menjadi anggota kuda lumping bisa menghibur orang banyak, bisa membantu orang tua untuk mendapatkan uang jajan. Ia sangat di dukung oleh orang tuanya untuk menjadi anggota kuda lumping. Dengan alasan agar tetap melestarikan kesenian Jawa, secara turun- temurun keluarga mereka telah menjadi sesepuh di Sanggar Turonggo Madiyo Budoyo. Meskipun ia hanya menerima imbalan berupa uang jajan yang diberikan oleh pawang, ia sudah merasa sangat puas dengan imbalan tersebut. Sebagaimana terkadang pawang juga memberikan santunan kepada keluarganya meskipun sanggar tidak melakukan pertunjukkan. Selama ia masih berada di bangku sekolah, ia lebih banyak meluangkan waktu untuk kesenian kuda lumping. Ketika untuk sekolah, semangat untuk belajar berkurang bahkan sering bolos untuk sekolah. Tidak seperti belajar untuk latihan pertunjukan kuda lumping yang begitu semangat ia lakukan. Sebagai anggota kuda lumping, ia tidak pernah menjadi anggota yang kesurupan. Di sanggar Turonggo Madiyo Budoyo, angggota perempuan tidak diperkenankan untuk keseurupan. Hal ini untuk menghindari pemikiran negative dari masyarakat. Karena ada hal sensitive bagi tubuh perempuan, sehingga pawang merasa tidak nyaman jika harus menyentuh tubuh anggota perempuan. 5. Nama Dimas Ari Surya Usia 15 tahun Jabatan Penari dan Yang Kesurupan Pekerjaan Pelajar kelas VIII SMP N 5 Padang Bolak Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Ketika peneliti menhampiri Dimas yang sedang bermain kelereng bersama teman-temanya, Dimas tidak bersedia untuk di wawancara dan merasa takut kepada peneliti. Secara perlahan-lahan peneliti mengutarakan maksud dan tujuannya menghampiri Dimas untuk diwawancarai. Setelah peneliti mengutarakan maksud dan tujuan, Dimas bersedia untuk diwawancarai. Dari hasil wawancara peneliti dengan Dimas. Peneliti cukup mendapatkan informasi sebagai data yang dibutuhkan. Dimas adalah anak ke tiga dari lima bersaudara dan berada di bangku kelas VIII SMP N 5 Padang Bolak. Ia menjadi anggota kuda lumping selama 2 tahun. Untuk mempelajari segala bentuk kegiatan dan perlengkapan kuda lumping selama satu bulan. Dalam waktu satu bulan ia telah menguasai segala jenis tarian, memainkan alat musik sebagai perlengkapan pertunjukan kuda lumping dan memiliki endang untuk bisa kesurupan. Adapun syarat khusus yang harus ia lakukan untuk menjadi anggota kuda lumping berupa puasa selama 3 hari 3 malam, selama puasa yang boleh di makan hanya nasi putih dan air putih saja, dan patuh terhadap peraturan sanggar saja. Syarat tersebut tidak berat untuk di lakukan. Alasan ia menjadi anggota kuda lumping antara lain - Tertarik pada atraksi kuda lumping - Bisa berkumpul dengan teman-teman dan memperoleh banyak teman - Ingin punya kegiatan rutin - Ingin memiliki endang - Dan untuk melestarikan kesenian Jawa. Adapun manfaat yang ia dapat setelah menjadi anggota kuda lumping antara lain - Lebih percaya diri - Bisa banyak teman dan dikenal banyak orang - Adanya rasa kekeluargaan antar sesama anggota kuda lumping - Memiliki endang yang dapat menolong dan menyelemat ia dari kesusahan/kecelakaan Orang tua Dimas sangat melarang ia untuk menjadi anggota kuda lumping, namun karena ia sudah hobby dan ingin melestarikan kesenian tradisional Jawa sebagai salah satu kesenian yang hampir punah karena masuknya budaya modern di Indonesia. Dengan demikian larangan orang tua Dimas tidak begitu diperdulikan. Menurut hasil wawanacara peneliti dengan Dimas, sebagai anak sekolah ia tidak begitu mementingkan waktu untuk sekolah dan lebih banyak meluangkan waktu untuk kuda lumping. Waktu untuk mempelajari kuda lumping tidak begitu rutin di lakukan dan bentuk latihan kuda lumping tidak begitu sulit untuk dipelajari dan tidak membosankan seperti pelajaran sekolah. Sebagai anggota kuda lumping ia sering menjadi anggota yang kesurupan. Dengan kesurupan ia bisa bermain dengan puas dan tidak tanggung-tanggung untuk menghibur orang banyak. 6. Nama Juliandi Andi Usia 13 tahun Jabatan Penari dan Yang Kesurupan Pekerjaan Pelajar kelas VII SMP N 5 Padang Bolak Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Andi itulah masyarakat sekitar memanggilnya. Andi telah mengetahui maksud dan tujuan peneliti datang menemuinya. Andi langsung bersikap terbuka dan ramah saat menjawab pertanyaan dari peneliti. Andi sudah menjadi anggota kuda lumping selama tiga tahun. Selama dua minggu ia sudah bisa memahami pelajaran yang dibutuhkan sebagai perlengkapan pertunjukan kuda lumping. Ia diberikan izin oleh orang tua nya untuk menjadi anggota kuda lumping. Adapun syarat yang harus ia lakukan untuk mengawali sebagai anggota kuda lumping yaitu mandi kembang 7 warna, puasa 7 hari 7 malam, mandi di tengah sungai pada tengah malam dan patuh terhadap peraturan sanggar. Menurut hasil wawancara peneliti dengan andi, peneliti banyak memperoleh informasi yang dibutuhkan sebagai kelengkapan data penelitian. Alasan Dimas untuk menjadi anggota kuda lumping yaitu - Ingin terus mempelajari kesenian kuda lumping - Meneruskan kegiatan keluarga yang terlebih dahulu memahami kesenian kuda lumping - Ingin memiliki endang Adapun manfaat yang ia peroleh setelah menjadi anggota kuda lumping yaitu - Memiliki banyak teman - Memiliki endang sebagai penjaga diri - Dapat menghibur orang banyak - Dan dapat melestarikan kesenian kuda lumping Ia selalu menjadi anggota yang kesurupan saat pertunjukan kuda lumping berlangsung. Ada kesan malu saat pertama kali ia kesurupan, namun secara perlahan-lahan rasa malu tersebut hilang karena sudah menjadi suatu kebiasaan. Selain untuk pertunjukan kuda lumping, endang yang dimiliki di pergunakan sebagai penjaga diri dari orang yang ingin berbuat jahat dan seru-seruan bersama teman-teman untuk memanggil roh pada malam jum’at kliwon. 7. Nama Mahput Usia 15 tahun Jabatan Penari dan Yang Kesurupan Alamat Desa Batang Pane III, Blok A, RT I Peneliti berjalan terus menerus dan menghampiri satu per satu rumah yang menjadi anggota kuda lumping. Saat di persimpangan jalan, peneliti berjumpa dengan seorang laki-laki yang tidak lain bernama Mahput. Mahput seorang pelajar di kelas IX SMP N 5 Padang Bolak. Ia sudah 2 tahun menjadi angggota kuda lumping. Dalam waktu 1 bulan ia sudah dapat mempelajari segala bentuk tarian dan mempelajari alat musik sebagai pendukung pertunjukan kuda lumping. Seperti hal nya dengan teman-teman yang menjadi anggota kuda lumping, menjalankan aturan dan tahapan ritual tidak menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukannya. Ia memperoleh izin dari orang tuanya untuk menjadi anggota kuda lumping dan sangat didukung oleh kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Menurut hasil wawancara dengan Mahput, peneliti memperoleh informasi yang cukup mendukung untuk mendapatkan data penelitian. Mahput sangat bangga menjadi anggota kuda lumping karena dengan menjadi anggota kuda lumping ia sudah dapat mewariskan keebudayaan tradisional Jawa dan dapat menghibur orang banyak. Sebagai anak yang masih sekolah, ia lebih mementingkan waktu untuk belajar kuda lumping. Belajar kuda lumping tidak rumit seperti mempelajari pelajaran di sekolah dan belajar kuda lumping ada permainanya yang tidak membuat bosan.

Adapula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

This study aims to determine and describe the Performance Structure of Kuda Lumping in Kampung Lapai Village, Nanggalo District, research belongs to a qualitative research. The research instruments used were the researcher it self, writing tools, and cellphone cameras. The object of this research was Kuda Lumping Brandon in Kampung Lapai Village, Nanggalo District, results show that Kuda Lumping has a performance structure which cannot be removed or reversed from beginning to end. In the performance process, there must be several important people or instruments such as a handler, offerings, players, and other instruments such as musical instruments, properties, and a team which can help the handler in the process of Kuda Lumping show. Judging from the results of observations regarding the structure of the show, Kuda Lumping Brandon has a clear performance structure. It contains elements which are mutually related one to another. For instance, in term musical elements, if ini the lumping horse show there is no music, it will affect the dancer, this also related to the existence of a trance scene because each musical stroke will affect the movements of the dancer whose musical trance plays an important role in every lumping horse show without music, it will not have a beautiful aesthetic value. Keywords Structure, Elements, Performance, Kuda Lumping Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Vol. 10 Nomor 1 Th. 2021, Hal 254-270 ISSN Online 2302-3201 online Diterima 18/07, 2020; Revisi 26/08, 2021; Terbit Online 05/01, 2021 STRUKTUR PERTUNJUKAN KUDA LUMPING DI KELURAHAN KAMPUNG LAPAI KECAMATAN NANGGALO PADANG Rendi Alfajri1; Marzam2 1 Prodi Pendidikan Musik, Universitas Negeri Padang, Padang, Indonesia. 2 Prodi Pendidikan Sendratasik, Universitas Negeri Padang, Padang, Indonesia. * e-mail; rendialfajri26 marzam1962 Abstract This study aims to determine and describe the Performance Structure of Kuda Lumping in Kampung Lapai Village, Nanggalo District, Padang. This research belongs to a qualitative research. The research instruments used were the researcher it self, writing tools, and cellphone cameras. The object of this research was Kuda Lumping Brandon in Kampung Lapai Village, Nanggalo District, Padang. The results show that Kuda Lumping has a performance structure which cannot be removed or reversed from beginning to end. In the performance process, there must be several important people or instruments such as a handler, offerings, players, and other instruments such as musical instruments, properties, and a team which can help the handler in the process of Kuda Lumping show. Judging from the results of observations regarding the structure of the show, Kuda Lumping Brandon has a clear performance structure. It contains elements which are mutually related one to another. For instance, in term musical elements, if ini the lumping horse show there is no music, it will affect the dancer, this also related to the existence of a trance scene because each musical stroke will affect the movements of the dancer whose musical trance plays an important role in every lumping horse show without music, it will not have a beautiful aesthetic value. Keywords Structure, Elements, Performance, Kuda Lumping 255 Issn 2302-3201 A. Pendahuluan Seni merupakan salah satu aspek budaya yang perlu dipahami, setidaknya diketahui oleh setiap orang. Kehidupan tanpa memahami atau mengetahui tentang seni akan membuat wawasan seseorang menjadi sempit dan terbatas. Mujianto 201014 mengungkapkan bahwa seni tidak lepas dari keberadaan unsur-unsur yang membangun karya seni tersebut. Sebuah pertunjukan seni di dalamnya terdiri atas bagian-bagian yang membentuk dan saling berkaitan satu sama lain. Keterkaitan bagian-bagian unsur dalam pertunjukan seni dapat menimbulkan kesan tertentu sehingga membentuk suatu struktur. Kuda lumping merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang berkembang di Sumatera Barat tepatnya di Kelurahan Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo Padang. Kelurahan Lapai ini merupakan kelurahan yang terdiri dari sebagian masyarakat Jawa dan masyarakat Minang. Masyarakat Jawa yang berada di Kenagarian Lapai berasal dari Pulau Jawa. Dalam pertunjukannya kesenian kuda lumping tidak lepas dari struktur pertunjukan yang disusun secara runtut agar pertunjukannya bisa memberikan nilai estetik yang indah. Selain itu, kesenian kuda lumping juga memiliki hubungan antar elemennya. Dalam hal ini, musik iringan sangat berpengaruh terhadap kesenian kuda lumping karena setiap pukulan, ritme, atau melodi dalam musik iringan dipercepat maka gerakan para penari kuda lumping juga cepat mengikuti alunan musiknya. Unsur-unsur atau elemen yang terdapat dalam seni pertunjukan merupakan pola teoritis yang sekaligus juga merupakan sasaran kajian yang memiliki kompetensi sebagai bentuk kasus yang harus diungkap fungsinya Maryono, 201289. Ketika seni dan struktur dipadukan, dapat melibatkan fungsi bagi masyarakat pendukungnya. Penelitian tentang struktur pertunjukan telah dilakukan oleh peneliti lain di beberapa daerah di Indonesia. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Desmayetti 2011, Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Trisakti 2013, dan Ketiga Penelitian yang dilakukan oleh Jovi Agni Priutami 2016. Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa struktur serta elemen pertunjukan dalam setiap pertunjukan seni tradisional itu berbeda-beda. Dalam pertunjukan kuda lumping di Kelurahan Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo Padang juga terdapat struktur pertunjukan serta elemen pertunjukan yang berbeda. Namun, struktur dan elemen dalam pertunjukan kuda lumping ini saling berkaitan sehingga tidak bisa diubah atau dibolak-balik penggunaannya. Sesuai dengan permasalahan di atas, masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah struktur pertunjukan kuda lumping pada grup Brandon di keluruhan Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo Padang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, menjelaskan dan mendeskripsikan struktur pertunjukan kuda lumping. B. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif karena data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data deskriptif berupa video pertunjukan kuda lumping Brandon. Moleong 20156 menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Martens dalam Syahrul, Tressyalina, dan Farel, 201750 menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu situasi kegiatan yang menempatkan pengamat dalam kehidupan dunia. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode ini bertujuan Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 256 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. untuk mendeskripsikan struktur pertunjukan kuda lumping Brandon di Kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang. Data penelitian ini adalah struktur pertunjukan kuda lumping Brandon di Kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang. Sumber data dalam penelitian ini adalah pertunjukan kuda lumping Brandon di Kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang. Data tersebut diperoleh dengan cara melihat langsung pertunjukan kuda lumping dan mengambil rekaman berupa video dari handphone. Peneliti membahas struktur pertunjukan berupa pembuka, inti, dan penutup. Peneliti juga membahas tentang elemen dalam pertunjukan serta keterkaitan antar elemen dalam pertunjukan kuda lumping. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Sugiyono 2016222 menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Observasi dilaksanakan pada saat pertunjukan di kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang. Wawancara dilakukan pada ketua sanggar seni Brandon, sekretaris sanggar seni Brandon dan beberapa pemain alat musik pengiring kuda lumping. Melalui studio dokumentasi diperoleh foto-foto, video, dan dokumen yang berhubungan dengan kuda lumping. Teknik penganalisisan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, proses reduksi data. Sugiyono 2016247 menjelaskan bahwa mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting di dalam penelitian untuk memberikan gambaran yang jelas. Pada tahap ini peneliti memfokuskan data pada struktur pertunjukan kuda lumping di Kelurahan Lapai, Kecamatan Nanggalo Padang. Kedua, penyajian data. Data yang sudah diperoleh akan disajikan ke dalam bentuk tabel yang disediakan. Ketiga, verifikasi kesimpulan, kesimpulan didapat setelah menganalisis seluruh data yang diperolah. Teknik pengabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi yang di maksud di sini yaitu triangulasi sumber, artinya proses pengujian kepercayaan dilakukan dengan langkah 1 membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, 2 membandingkan apa yang dikatakan informan di depan umum dengan di depan peneliti, 3 membandingkan apa yang dikatakan informan pada saat penelitian dan saat sepanjang waktu, 4 membandingkan perspektif dan keadaan orang dengan tanggapan orang lain, dan 5 membandingkan hasil wawancara dengan data dokumen. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesalahan dalam pengumpulan data. C. Pembahasan Berdasarkan temuan penelitian, dari struktur pertunjukan kuda lumping Brandon terdiri dari tiga struktur yaitu, pembuka, inti, dan penutup. Sedangkan elemen pertunjukan terdiri dari pelaku, gerak, musik, kostum dan rias, properti, waktu dan tempat. Dilihat dari pembuka terdiri dari 17 langkah-langkah yang dilakukan pada bagian pembuka. Dilihat dari bagian inti ada 52 langkah-langkah yang dilakukan, dan pada bagian penutup ada 14 langkah-langkah yang harus dilakukan. Dilihat dari unsur elemennya, pada bagian pelaku terdiri dari pawang, penari, pemain musik, dan penonton. Pada bagian gerak terdiri dari dua bagian, gerak penari remaja, dan gerak penari laki-laki dewasa. Sedangkan, pada bagian alat musik terdiri lima alat musik yaitu gong, saron, kendang, kenong, demong, pada bagian 257 Issn 2302-3201 kostum dan rias ada yang dinamakan dengan udeng, selendang, baju kaos, rompi, centing, kain panjang, dan jarek. Untuk bagian properti terdiri dari kuda lumping, barong, topeng buta cakil, cambuk, dan sesajen. 1. Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Brandon Berdasarkan analisis data, ditemukan tiga struktur pertunjukan berupa pembuka, inti, dan penutup. a Pembuka Pada bagian pembukaan, elemen yang diperlukan adalah pertama pelaku berupa penabuh atau pemain musik, penari, dan pawang. Properti berupa sesajen, cambuk, barongan, dan alat musik. Berikut langkah-langkah dalam pembukaan secara rinci. Sebelum pawang melakukan pembakaran kemenyan ada beberapa hal yang dilakukan seperti mempersiapkan sesajen dengan meletakkan di atas meja dan ada juga sesajen yang diletakkan di bawah meja seperti minyak duyung, kemenyan, kelapa muda dan perlengkapan lainnya diletakkan dalam satu wadah seperti baki. Kemudian membunyikan musik dari kaset sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada penonton yang telah hadir. Menurut Suripno wawancara, 25 Mei 2020 jika tahap ini tertinggal maka akan berpengaruh terhadap inti dalam pertunjukan kuda lumping seperti sepinya kehadirian penonton. Pertunjukan kuda lumping ini tidak bisa berlangsung tanpa adanya kehadiran penonton, karena penonton adalah salah satu unsur dalam pertunjukan kuda lumping. b Inti Sebelum tarian inti dimulai atau yang biasa disebut dengan tarian Jathilan, akan ada pembacaan doa yang dilakukan oleh seorang pawang. Pertama, pawang melihat perlengkapan sesajen yang telah disediakan untuk kelancaran dalam keberlangsungan pertunjukan kuda lumping ini. Diikuti oleh panitia untuk mempersiapkan bara api dan meletakannya dekat dengan sesajen. Kemudian, pawang mendekati bara api dengan membawakan minyak duyung yang telah diambil dalam sajian sesajen. Pada saat pawang membakar kemenyan semua properti didekatkan oleh pawang yang duduk di depan bara api serta asapan kemenyan. Disinilah pawang mengucapkan doa atau mantra sebelum pertunjukan dimulai. Setelah pembukaan selesai maka akan dimulai pertunjukan inti dalam kesenian kuda lumping. Tahap inti ini tidak bisa dilakukan tanpa melalui tahap pembukaan di atas. Karena semua yang dilakukan dalam tahap pembukaan akan berdampak pada tahap inti ini. Seperti pembacaan doa atau mantra dalam pembukaan akan berpengaruh terhadap kehadiran roh endang yang akan datang dalam pertunjukan kuda lumping ini. Kalau tidak ada mantra pemanggilan roh yang dilakukan oleh pawang pada tahap pembukaan maka aksi kerasukan pada sesi inti tidak akan berwujud. Beberapa saat kemudian penari pun datang dengan tata rias dan kostumnya masing-masing. Semua penari memakai kostum yang seragam. Setelah semua penari memakai properti panglima mulai mengkoordinasikan semua pasukan untuk mengambil posisi awal seperti arah hadap. Musik mulai dimainkan bertanda tarian inti ini akan segera dimulai. Pada saat tertentu tarian akan mencapai pada masa klimaks. Masa klimaks adalah masa penari mulai ada yang kesurupan dengan tanda awal penari berguling serta jungkir balik. Namun demikian belum seluruhnya kerasukan. Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 258 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. Penari yang kerasukan langsung didekati oleh tim atau panitia serta pawang dengan cara mengusap dan memukul bagian anggota badan tertentu seperti pundak dan bagian belakang kepala diusap. Hal itu dilakukan untuk menyempurnakan endang yang masuk ke raga penari juga pawang membisikkan mantra yang tujuannya agar endang yang datang tidak membuat kerusuhan dalam pertunjukan kuda lumping ini. Sementara itu ada beberapa penari yang belum kerasukan langsung berhenti melakukan tarian dengan duduk bersama disamping area pertunjukan. Dalam pertunjukan kuda lumping ini para penari yang kerasukkan bisa melakukan komunikasi terutama kepada pawang. Selain itu juga ada penari yang kerasukan melakukan komunikasi dengan sesama penari yang kerasukan itu bertanda bahwa roh endang yang masuk dalam raganya itu berteman atau kenal dengan roh endang yang masuk ke dalam raga penari lainnya. Apabila roh endang-endang tersebut tidak mengenal maka penari yang kerasukan tidak bisa melakukan komunikasi antara satu dengan lainnya. Setiap penari kuda lumping yang telah kerasukan bisa berulang-ulang mengalami kerasukan. Karena setiap endang yang diundang akan datang tidak sendirian, endang-endang tersebut akan membawa teman pengikut dan akan berganti-gantian masuk ke dalam raga si penari. Artinya masih ada kemungkinan penari yang telah mengalami kerasukan akan mengalami kerasukan kembali dengan roh endang yang masuk ke dalam raganya itu berbeda. Sehingga atraksi-atraksi yang diperlihatkan juga berbeda. Hal inilah yang menjadi salah satu momen yang tidak membosankan bagi para penonton. c Penutup Bagian penutup ini dilakukan untuk mengeluarkan roh endang dari tubuh penari dengan cara pawang akan membisikan ke penari atau bisa juga dengan pembacaan mantra atau mengunci diri para penari yang kerasukan. Kunci ini adalah penyembuhan total yang dilakukan oleh pawang untuk menyadarkan pemain agar roh endang tidak bisa masuk kembali. Penyembuhan juga berarti mengembalikan kesadaran dengan cara mengeluarkan roh endang yang masuk ke dalam raga penari. Apabila semua penari maupun penonton yang telah kerasukan telah disembuhkan dikunci oleh pawang maka pertunjukan kuda lumping bertanda telah usai. Penyembuhan dalam kuda lumping ini memiliki bersifat magis. Roh endang yang telah masuk ke dalam raga penari akan keluar dengan cara dibacakan mantra atau doa-doa oleh pawang dan ada juga dengan cara berbisik ke telinga penari dengan mengatakan “Silahkan pulang, adzan magrib akan segera dikumandangkan”. Namun, ada juga beberapa roh yang sedikit sukar disuruh keluar maka pawang akan mengeluarkan dengan paksa dengan cara menutup seluruh badan penari dengan kain panjang dan mengasapinya dengan kemenyan. Pada saat ditutupi kain panjang tubuh penari kelihatan bergetar itu bertanda endang telah keluar dari raga penari. Kemudian kain panjang dibuka dan penari kelihatan pusing. Untuk penyempurnaan penyembuhan pawang akan membisikan dan mengasapi wajah penari dengan kemenyan serta meniup ubun-ubunnya. Selain itu, pawang juga melakukan penekanan pada kedua jempol kaki. Berdasarkan pernyataan Suripno wawancara, 25 Mei 2020 selain dengan cara di atas penyembuhan juga ada yang dilakukan dengan cara menjepitkan tubuh penari ke mulut barongan. Cara penyembuhan ini sesuai dengan permintaan roh endang ysng telah masuk ke dalam tubuh pemain tersebut. Biasanya pemain yang dalam kondisi kerasukan 259 Issn 2302-3201 sering menggunakan barongan maka pada saat penyembuhan nantinya pasti meminta dijepitkan pada mulut barongan. 2. Elemen Pertunjukan Kuda Lumping Brandon 1 Pelaku a Penabuh Berdasarkan pengamatan peneliti tanggal 4 Agustus 2020, ternyata pemusik dalam kesenian kuda lumping ini mayoritas adalah laki-laki yang berumur sekitar 30 sampai 50 tahun. Pemusik ini memainkan alat musik dengan menguasai masing-masing alat musik yang akan dimainkan. Pada saat pertunjukan pemusik kuda lumping Brandon belum menggunakan kostum atau seragam. Berdasarkan pengamatan, pemusik masih menggunakan baju bebas atau baju kaos. b Penari Menurut pengamatan peneliti, penari dalam pertunjukan kuda lumping Brandon ada dua sesi. Penari pertama adalah pasukan para penari remaja sebagai tarian pembuka dan yang kedua adalah tarian pasukan berkuda yang diperankan oleh penari laki-laki dewasa. Pada tarian kedua inilah atraksi-atraksi akan ditampilkan seperti makan bara api, makan bunga mawar, membuka sabut kelapa dengan gigi, memakan padi, dan sebagainya. Suripno wawancara, 25 Mei 2020 mengungkapkan bahwa penari kuda lumping Brandon ini terdiri dari dua pasukan yang nantinya akan menunjukan perperangan antara pasukan berkuda. c Pawang Menurut Suripno wawancara, 25 Mei 2020 pawang merupakan salah satu unsur terpenting dalam pertunjukan kuda lumping karena pawang berperan sebagai pemimpin utama untuk keberlangsungan ritual-ritual yang ada dalam pertunjukan kesenian kuda lumping. Kalau tidak ada pawang maka tidaklah ada ritual dalam pertunjukan kesenian kuda lumping. Grup kuda lumping Brandon di Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang ini memiliki satu pawang inti yang sudah berusia 75 tahun yang biasa dipanggil dengan Mbah Surip. Beliau inilah yang masih dijadikan patokan sebagai para Tuo tari yang masih ada dalam grup kuda lumping Brandon. d Penonton Penonton pertunjukan merupakan salah satu unsur dalam memeriahkan pertunjukan kuda lumping. Kalau tidak ada penonton dalam pertunjukan kesenian ini maka pertunjukan tidaklah memiliki arti, karena salah satu tujuan kesenian ini ditampilkan adalah sebagai sarana hiburan untuk penikmatnya khususnya bagi masyarakat Jawa yang ada di Keluruhan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang. Pertunjukan kuda lumping ini merupakan salah satu pertunjukan tradisional yang berfungsi untuk memberikan kesenangan hiburan estetis. 2 Gerak Dalam grup kesenian kuda lumping ini memiliki dua kelompok penari diantaranya penari remaja dan penari laki-laki dewasa. Penari remaja tampil pada tahap pembukaan sedangkan penari laki-laki dewasa tampil pada tahap inti penyajian kesenian kuda lumping yang akan melihatkan atraksi kesurupan. a Gerak Penari Remaja Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 260 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. 1 Ngibeng Gerak ini dilakukan oleh enam orang penari remaja dengan menggoyangkan properti dengan cara diputar-putarkan ke kiri dan ke kanan dalam hitungan 1x8 dalam satu arah dan dilakukan berulang sebanyak empat arah penjuru. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020, pada saat gerakan ngibeng berlangsung alat musik dimainkan hanya dua instrumen yaitu saron dan demong yang dimainkan secara bersama-sama atau serentak dengan menggunakan tempo moderato sedang agak cepat. Ketukan pada saat gerakan ngibeng ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan ngibeng ini tidak ada perubahan dinamiknya, karena ngibeng hanya menggoyangkan properti dengan cara diputar-putarkan ke kiri dan ke kanan dalam hitungan 1x8 dalam satu arah dan dilakukan berulang sebanyak empat arah penjuru. Nama dinamik pada bagian ini adalah mezzo piano yang berarti agak lembut. Melodi yang dimainkan instrumen saron dan demongberbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. 2 Ukelan Ukelan menggambarkan bentuk tangan yang mengepal yang bergerak ke depan kepala sebagai tanda rasa hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga penghormatan kepada para penonton yang telah hadir menyaksikan pertunjukan kuda lumping ini. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 pada bagian gerakan ukelan semua instrumen dimainkan oleh pengiring musik dengan cara serentak ada lima yaitu saron, demong, kenong, gong, dan kendang. Ketukan pada saat gerakan ukelan ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan.Instrumen ini dimainkan secara bersamaan dengan menggunakan tempo allegro yang berarti cepat. Dalam gerakan ukelan tidak terdapat perubahan dinamiknya. Dinamik yang dimainkan pada bagian ini disebut piano yang artinya lembut. Karena gerakan ukelan menggambarkan bentuk tangan yang mengepal yang bergerak ke depan kepala sebagai tanda rasa hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga penghormatan kepada para penonton yang telah hadir menyaksikan pertunjukan kuda lumping. Melodi yang dimainkan instrumen saron, demong, kenong, gong, dan kendang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. 261 Issn 2302-3201 3 Giringan Giringan berarti mengarahkan. Dalam gerak ini panglima menggiring pasukan berjalan untuk bergerak kearah yang ditunjukkan panglima. Kemana panglima menunjuk kearah itu pula pasukan bergerak. Gerak giringan berisi arti kalau panglima yang memimpin pasukan untuk berperang dengan arah tujuan pun ditentukan oleh panglimanya. Setiap perubahan arah gerak diberi aba-aba oleh panglima dengan mengeluarkan bunyi cambuk. Cambuk yang dipegang dilecutkan di atas permukaan tanah. Ketika panglima telah membunyikan cambuk pasukan langsung merubah arah gerak giringan yang telah ditunjukkan oleh panglima. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 pada bagian gerak giringan, instrumen yang dimainkan oleh pengiring musik ada lima yaitu saron, demong, kenong, gong, dan kendang. Instrumen ini dimainkan secara bersamaan dengan menggunakan tempo allegro yang berarti cepat. Ketukan pada saat gerakan giringan ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan giringan terdapat perubahan dinamiknya. Dari Dinamik yang dimainkan secara lembut piano berubah menjadi dinamik crescendo karena akan masuknya gerakan pasukan berkuda. Yang artinya semakin lama semakin kuat. Melodi yang dimainkan instrumen saron, demong, kenong, gong, dan kendang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 262 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. b Gerak Penari Laki-laki Dewasa 1 Gerak Awal atau Pembuka Gerak Pasukan Berkuda Gerak ini merupakan gerak perawalan saat akan masuk gerak pertama dalam pertunjukan kuda lumping. Untuk memulai gerak ini pun menunggu aba-aba dari panglima yang memegang cambuk yang berperan sebagai pemimpin pasukan. Panglima adalah seorang yang berperan sebagai pemimpin dalam pasukan berkuda. Saat panglima membunyikan cambuk alunan musik pun mulai berubah terutama gendang yang bunyinya meningkat dengan tempo cepat, disaat itulah gerak ini mulai dilakukan oleh semua penari yang disebut pasukan berkuda. 2 Gerak Inti a Ukelan Gerak ini merupakan gerak inti dalam kesenian ini. Ukelan itu menggambarkan bentuk tangan yang mengepal yang bergerak ke depan kepala sebagai tanda rasa hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga penghormatan kepada para penonton yang telah hadir menyaksikan pertunjukan kuda lumping ini. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 pada bagian gerakan ukelan penari dewasa, instrumen yang dimainkan oleh ada lima yaitu saron, demong, kenong, gong, dan kendang. Ketukan pada saat gerakan ukelan ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Instrumen ini dimainkan secara bersamaan dengan menggunakan tempo vivace yang berarti lebih cepat. Setelah gerakan ukelan berlangsung masuklah gerakan jinjitan, Dalam gerakan ukelan perpindahan ke gerakan jinjitan initerdapat perubahan dinamik, Dari dinamik mezzo piano ke dinamik forte yang berarti kuat. Karena gerakan ukelan 263 Issn 2302-3201 penari laki-laki dewasa ini gerakan inti. Melodi yang dimainkan instrumen saron, demong, kenong, gong, dan kendang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. b Jinjitan Jinjitan merupakan gerak lanjutan dari gerak ukelan yang berarti bahwa masing-masing pasukan berkuda saling membangun komunikasi dengan anggota pasukan sebelum berperang. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020, pada saat pertunjukan berlangsung instrumen saron dan demong dimainkan secara bersama-sama atau serentak dengan menggunakan tempo moderato sedang agak cepat. Ketukan pada saat gerakan jinjitan ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan giringan ini tidak ada perubahan dinamiknya, nama dinamik pada bagian ini adalah mezzopiano yang berarti agak lembut. Melodi yang dimainkan instrumen saron dan demong berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 264 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. c Sirikan Sirikan merupakan gerak yang dilakukan setelah gerak jinjitan. Setelah semua pasukan telah dikondisikan kemudian panglima memberi instruksi apakah semua pasukan telah siap untuk berperang. Dengan melakukan gerak sirikan yang bermakna pengujian kekompakan masing-masing pasukan berkuda. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020, pada saat pertunjukan berlangsung gerakan sirikan kembali dimainkan dua instrumen yaitu saron dan demong dimainkan secara bersama-sama atau serentak dengan menggunakan tempo moderato sedang agak cepat. Ketukan pada saat gerakan sirikan ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan sirikan ini tidak ada perubahan dinamiknya, nama dinamik pada bagian ini adalah mezzo piano yang berarti agak lembut. Melodi yang dimainkan instrumen saron dan demong berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. d Kiprahan Kiprahan merupakan gerak yang dilakukan tanpa pengulangan. Kiprahan berarti melangkah, dengan melakukan langkah loncat ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Gerak ini berisi arti bahwa pasukan berkuda semuanya sudah siap dan kompak antara masing-masing kelompok. Dan saat inilah gerak kiprahan yang menggambarkan masing-masing kelompok saling menunjukkan kelincahannya dengan posisi saling membelakangi. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 pada bagian gerakan kiprahan, instrumen yang dimainkan ada lima yaitu saron, demong, kenong, gong, dan kendang. Instrumen ini dimainkan secara bersamaan dengan menggunakan tempo allegro yang berarti cepat. Ketukan pada saat gerakan kiprahan ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan kiprahan tidak terdapat perubahan dinamiknya. Dinamik yang dimainkan pada bagian ini disebut mezzo piano yang artinya agak lembut. Melodi yang dimainkan instrumen saron, demong, kenong, gong, dan kendang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. 265 Issn 2302-3201 e Giringan Giringan berarti mengarahkan. Dalam gerak ini panglima menggiring pasukan berjalan untuk bergerak ke arah yang ditunjukkan panglima. Kemana panglima menunjuk ke arah itu pula pasukan bergerak. Gerak giringan berisi arti kalau panglima yang memimpin pasukan untuk berperang dengan arah tujuan pun ditentukan oleh panglimanya. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 pada bagian gerak giringan laki-laki dewasa,instrumen yang dimainkan ada lima yaitu saron, demong, kenong, gong, dan kendang. Ketukan pada saat gerakan giringan laki-laki dewasa ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Instrumen ini dimainkan secara bersamaan oleh pemain musik dengan menggunakan tempo allegro yang berarti cepat. Dalam gerakan giringan laki-laki dewasa terdapat perubahan dinamiknya. Dinamik yang dimainkan pada bagian ini disebut mezzo piano yang artinya agak lembut. Melodi yang dimainkan instrumen saron, demong, kenong, gong, dan kendang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 266 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. f Kiteran Awal Kiteran awal ini merupakan gerak lanjutan dari gerak kiprahan, hanya saja pada saat gerak kiteran awal ini terlihat perasaan was-was karena akan terjadi perlawanan dua pasukan berkuda. Dengan arah jalannya berputar. Pada saat kiteran awal ini langkah jalan pasukan masih kelihatan pelan. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020, pada saat pertunjukan berlangsung pada gerakan kiteran awal penari laki-laki dewasa instrumen saron dan demong dimainkan secara bersama-sama atau serentak dengan menggunakan tempo moderato sedang agak cepat. Ketukan pada saat gerakan kiteran awal penari laki-laki dewasa ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan kiteran penari laki-laki dewasa ini tidak ada perubahan dinamiknya, nama dinamik pada bagian ini adalah mezzo piano yang berarti agak lembut. Melodi yang dimainkan instrumen saron dan demong berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. g Perang Perang ini menggambarkan kedua pasukan berkuda berjuang mempertahankan nyawa untuk memperjuangkan kesejahteraannya. Ketua pasukan menggunakan pedang sedangkan pasukan lainnya ikut membantu pasukannya masing-masing untuk melakukan perlawanan. Dari pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 pada bagian gerakan perang, instrumen yang dimainkan ada lima yaitu saron, demong, kenong, gong, dan kendang. Instrumen ini dimainkan secara bersamaan dengan menggunakan tempo vivace yang berarti lebih cepat. Ketukan pada saat gerakan perang ini yaitu 4/4 yang berarti bahwa setiap-setiap hitungan not bernilai seperempat dalam 267 Issn 2302-3201 setiap birama tiap birama terdiri dari empat ketukan. Dalam gerakan perang ini terdapat perubahan dinamik, dari gerakan sebelum perang dinamik yang dimainkan oleh musik pengiring yaitu mezzo piano,Pada bagian perang ini dinamik yang dimainkan yaitu forte yang berarti kuat. Karena para pemain musik pengiring memberikan semangat untuk para pasukan berkuda yang sedang berperang. Melodi yang dimainkan instrumen saron, demong, kenong, gong, dan kendang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut. 3 Iringan Musik Menurut Jazuli 200813 keberadaan musik di dalam tari mempunyai tiga aspek dasar yang erat kaitannya dengan tubuh dan kepribadian manusia yaitu melodi, ritme, dan dramatik. Oleh karena itu, pertunjukan kuda lumping ini tidak bisa dipisahkan dari musik. Dalam pertunjukan kuda lumping Brandon terdapat lima orang pemain musik. Musik yang dimainkan dalam pertunjukan kuda lumping Brandon adalah ensambel perkusi yang terdiri dari alat musik, kendang, saron, demong, gong, kenong. Pola iringan yang dimainkan sangat sederhana dan terkesan monoton dan menyesuaikan dengan alat musik yang digunakan. Dari hasil pertunjukan yang peneliti lihat 24 Agustus 2020 setiap gerakan yang ada di kuda lumping Brandon memiliki pola sendiri-sendiri. Instrument yang digunakan pun juga berbeda tergantung dengan gerakan yang ditampilkan. Untuk lebih jelasnya peneliti sudah menjabarkan setiap notasi yang dimainkan pada keterangan gerak di atas. 4 Kostum dan Rias Berdasarkan pengamatan peneliti tanggal 25 Mei 2020 ternyata dalam pertunjukan kuda lumping ini masih memiliki tata busana dan tata rias yang sama. Tidak begitu banyak perubahan, busana yang digunakan sebagai berikut, 1 udeng, udeng adalah kain yang diikatkan pada kepala, 2 selendang, selendang ini diikatkan dipinggang dan dijuntaikan disamping kedua kaki, 3 baju kaos, 4 rompi, 5 Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 268 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. centing, centing adalah kain yang dililitkan dipinggang untuk mengikat selendang dan kain panjang, 6 remong, remong adalah kalung yang dikaitkan pada leher, 7 jarek atau kain panjang dan lainnya. 5 Properti Pertunjukan kuda lumping memiliki properti tersendiri. Dari hasil penelitian 24 Agustus 2020 properti yang digunakan dalam pertunjukan kuda lumping Brandon terdiri dari, kuda-kudaan jaran yang terbuat dari jalinan atau kepangan bambu yang sering disebut dengan kuda lumping, topeng buta cakil, barong, cambuk, dan sesajen. Setiap properti yang dipakai dalam pertunjukan kuda lumping mempunyai fungsinya masing-masing. 6 Waktu dan Tempat Kesenian kuda lumping di Kelurahan Kampung Lapai biasanya dilakukan sekitar pukul Wib dan sering kali diadakan setelah waktu zuhur. Menurut Yanti wawancara tanggal 21 Maret 2020 hal itu bertujuan agar matahari tidak begitu panas. Namun, saat momen tertentu kesenian kuda lumping ditampilkan pada malam hari. Semua itu tergantung dari kesepakatan semua anggota pemain kesenian kuda lumping terutama memperhitungkan kesediaan waktu pawang. 3. Pembahasan Kesenian kuda lumping Brandon ini telah ada sejak tahun 1940-an pada saat penjajahan Belanda. Dari dulu sampai saat sekarang ini kesenian kuda lumping tetap memiliki Struktur Penyajian yang tidak bisa diubah apalagi ditinggalkan saat mengadakan penyajian kesenian kuda lumping ini. Kesenian kuda lumping Brandon ini telah mengalami perubahan kepengurusan sebanyak empat kali. Berdasarkan teori Van Peursen dalam Daryusti yang mengatakan bahwa “Struktur adalah unsur-unsur atau komponen-komponen yang saling berhubungan secara teratur. Dengan demikian struktur adalah susunan dari unit-unit yang mempunyai tata hubungan yang menjadi satu kesatuan”. Dalam pertunjukan kesenian ini memiliki unsur-unsur dan perangkat yang memiliki fungsi tersendiri dan masing-masing unsur ini memiliki hubungan atau keterkaitan antara unsur yang satu ke unsur yang lainnya, diantaranya adalah waktu dan tempat, pemusik, penari, gerak, pola lantai, tata busana dan tata rias, properti, pawang, sesajen, mantra, alat musik, dan penonton. Setiap elemen dalam kuda lumping ini memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Untuk lebih jelasnya hubungan atau keterkaitan setiap elemen akan dijelaskan pada bagian berikut. 1 Pelaku dengan Gerak Pelaku yang dimaksud disini adalah penari. Jika penari tidak ada maka gerakan tarian dalam pertunjukan tidak bisa ditampilkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jazuli, 2011202 bahwa pelaku merupakan objek terpenting dan yang utama dalam sebuah pertunjukan. Selain itu, pelaku berupa pawang juga dibutuhkan, jika tidak ada pawang maka acara tidak bisa dilanjutkan karena yang 269 Issn 2302-3201 bisa memulai pembakaran kemenyan atau mantra pemanggil roh hanya pawang saja. 2 Gerak dengan Iringan Musik Gerak dengan iringan memiliki kaitan yang erat. Sesuai dengan penelitian yang saya lakukan tampak bahwa setiap gerakan yang ekstrim maka musiknya juga akan menjadi cepat. Menurut Indrayuda, 201317 gerak dalam suatu pertunjukan merupakan gerak terencana dan tersusun dengan struktur gerak yang jelas. Oleh sebab itu, gerak dengan iringan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. jika dalam pertunjukan kuda lumping tidak adanya musik maka akan mempengaruhi penari. Hal ini juga berhubungan dengan adanya adegan kesurupan, karena setiap pukulan musik itu akan mempengaruhi gerakan penari yang kesurupan. Musik sangat berperan penting dalam setiap pertunjukan kuda lumping, tanpa adanya musik maka pertunjukan tersebut tidak akan memiliki nilai estetika yang indah. 3 Pawang dengan Sesajen Pawang merupakan salah satu unsur terpenting dalam pertunjukan kuda lumping karena pawang berperan sebagai pemimpin utama untuk keberlangsungan ritual-ritual yang ada dalam pertunjukan. Cara pawang melakukan ritual tersebut adalah dengan membakar kemenyan di atas bara api serta membawa sesajen ke lapangan untuk diasapi dengan kemenyan. Jadi, jika salah satu unsur di atas tidak ada maka salah satunya juga tidak akan bisa berfungsi. 4 Penari dengan Properti Penari dalam pertunjukan kuda lumping memiliki karakternya masing-masing. Penari menari dengan menggunakan properti yang sudah disediakan. jika properti tidak ada maka penari tidak akan bisa menari sesuai karakter yang digambarkan dalam properti. Jadi, unsur penari dengan properti tidak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa setiap elemen dalam pertunjukan kuda lumping memiliki fungsinya masing-masing dan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. D. Simpulan dan Saran Dari hasil penelitian tentang Struktur Pertunjukan Kuda Lumping peneliti dapat menyimpulkan bahwa Kuda Lumping yang ada di Kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang memilik struktur pertunjukan yang jelas yaitu struktur dengan elemen-elemen yang saling memiliki hubungan antara satu dengan yang lain. Misalnya dari segi unsur musik, jika dalam pertunjukan kuda lumping tidak adanya musik maka akan mempengaruhi penari. Hal ini juga berhubungan dengan adanya adegan kesurupan, karena setiap pukulan musik itu akan mempengaruhi gerakan penari yang kesurupan. Musik sangat berperan penting dalam setiap pertunjukan kuda lumping, tanpa adanya musik maka pertunjukan tersebut tidak akan memiliki nilai estetika yang indah. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada berbagai pihak untuk terus memilihara tari tradisi, dan mampu mempertahankannya sebagai suatu warisan budaya. Disamping Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Di Kelurahan Kampung Lapai – Rendi Alfajri 270 Jurnal Sendratasik Vol. 10 No. 1. itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk melihat Struktur Pertunjukan Kuda Lumping Brandon. Daftar Rujukan Indrayuda. 2013. Tari Sebagai Budaya dan Pengetahuan. Padang UNP Press. Jazuli, M. 2008. Pendidikan Seni Budaya Suplemen Pembelajaran Seni Tari. Semarang Unnes Press. Maryono. 2011. Penelitian Kualitatif Seni ISI Press Solo. Moleong, Lexy J. 2015. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung Remaja Rosdakarya. Mujianto, dkk. 2010. Pengantar Ilmu Budaya. Yogyakarta. Pelangi Publishing. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D. Bandung Alfabeta. Syahrul, R., Tressyalina, dan Farel. 2017. Metodologi Penelitian Pembelajaran Bahasa Indonesia”. Buku Ajar. Padang Sukabina. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Muhammad JazuliBuku ”Seni Tari Suplemen Pembelajaran Seni Budaya” edisi 2 ini merupakan pengembangan dari buku yang pernah ditulis dan diterbitkan pada tahun 2008. Alasan pengembangan penulisan buku ini karena tuntutan situasi dan masih sangat dibutuhkan, terbukti banyak permintaan dan saran dari para pemerhati pendidikan seni-budaya, khususnya para guru di sekolah SD, SMP dan SMA, serta para mahasiswa. Penerbitan buku Seni Tari ini dapat menjadi materi pengayaan dalam usaha pengembangan wawasan pengetahuan tentang seni tari dalam mata pelajaran seni budaya. Materi bahasan diarahkan pada apresiasi yang disajikan secara praktis agar mudah dipahami. Oleh karena itu, buku ini layak digunakan untuk para siswa, dan guru seni budaya di SD, SMP dan SMA, serta para mahasiswa. Penulisan buku ini didasarkan pada berbagai sumber acuan yang dianggap mendukung tujuan, perkembangan zaman dan tuntutan situasi. Dengan demikian tidak diragukan bila kehadiran buku ini semakin bermanfaat untuk sumber pengembangan informasi maupun pengkayaan pustaka bidang seni budaya yang sampai kini masih terasa miskin dan kering dalam percaturan ilmu pengetahuan maupun dunia pendidikan. Harapan penulis semoga buku ini berguna bagi para pemerhati dan pecinta seni budaya, terutama para pendidik. Namun demikian mohon maaf apabila ada kekurangan, kelemahan, dan kealpaan dalam penulisannya, dan tentu saja tegur sapa dari para pengguna sangat dinantikan demi kesempurnaan buku Kualitatif Seni PertunjukanMaryonoMaryono. 2011. Penelitian Kualitatif Seni ISI Press Penelitian Kualitatif. Bandung Remaja RosdakaryaLexy J MoleongMoleong, Lexy J. 2015. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung Remaja Penelitian KuantitatifSugiyonoSugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D. Bandung Penelitian Pembelajaran Bahasa IndonesiaR SyahrulDan TressyalinaFarelSyahrul, R., Tressyalina, dan Farel. 2017. Metodologi Penelitian Pembelajaran Bahasa Indonesia". Buku Ajar. Padang Sukabina.
Diantaranyasebagai berikut: 1. Media Pendidikan. Tari kuda lumping menggambarkan watak manusia, baik dan buruk. Dalam tarian ini memiliki banyak nilai dan norma yang dijunjung tinggi. Tari kuda lumping mengajarkan kepada manusia untuk selalu berbuat baik selagi masih diberi kesempatan. 2.
Kesenian kuda lumping – Mungkin kamu lupa-lupa ingat dengan kesenian ini, karena memang kesenian yang satu ini sudah jarang terlihat. Terlebih ketika kamu tinggal di perkotaan. Kesenian tradisional Indonesia yang mengharuskan pemainnya menggendarai kuda, tapi bukan kuda betulan alias kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Dan membuat para pemainnya bisa kesurupan. Pasti sudah mulai ingat dong??? Yups, kesenian ini dikenal dengan nama Kuda Lumping, bisa disebut juga sebagai Jaran Kepang atau tarian Jathilan. Kesenian yang berasal dari Ponorogo, meski banyak juga daerah-daerah di Indonesia yang memiliki kesenian Kuda Lumping ini. Mari kita mengenal lebih dekat dulu kesenian Kuda Lumping, agar kita semakin tahu budaya Indonesia yang indah. Dimulai dari sang kuda yang menjadi icon di kesenian ini. Terbuat dari anyaman bambu serta hiasan yang dibuat sedemikian rupa agar menyerupai kuda aslinya. Para pemain juga dibekali tali pengekang yang terbuat dari tali yang dikepang. Tali tersebut untuk memacut kuda bambu mereka saat beraksi dan bermain Kuda Lumping. Dan berikut beberapa info mengenai asal usul serta kemistisan yang dimiliki oleh si Kuda Lumping. 1. Kuda Lumping Memiliki Banyak Nama – Kesenian Kuda Lumping Selain ada kerajinan kuda dan tali kekangnya, saat penampilan Kuda Lumping, para pemain menari dengan diiringi musik tradisional. Misalnya saja kendang, kenong, gong dan ada juga slompret. Kesenian Kuda Lumping juga memiliki banyak nama, seperti yang sudah dikatakan di atas tadi. Bahwa hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian si Kuda Lumping. Bisa kita mulai dari Jawa Barat yang memiliki sebutan sama yaitu Kuda Lumping. Ada pula daerah Banyuwangi yang terkenal dengan Jaranan Buto. Dan di Surabaya dengan nama Jaran Kepang, Trenggalek memberi nama kesenian ini dengan Turonggo Yakso. Sedangkan untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah menamainya dengan sebutan Jathilan Hamengkubuwono. Terakhir ada dari daerah Bali yang disebut Jaranan Sang Hyang. 2. Sudah Ada Sejak Kerajaan Hindu – Kesenian Kuda Lumping Bagaimana dengan usia Kuda Lumping? Ternyata Kuda Lumping memiliki usia yang lebih tua dari dugaan kita. Dan ternyata Kuda Lumping telah menjadi bagian dari upacara di zaman kerajaan Hindu yang lekat dengan makna spiritual. Serta dijadikan media untuk berkomunikasi dengan arwah dari para leluhur sebelumnya. Maka tak heran jika sampai hari ini Kuda Lumping identik dengan hal mistis, hingga tak jarang membuat para pemainnya harus kerasukan. 3. Kesurupan Jadi Media Komunikasi – Kesenian Kuda Lumping Melihat para pemain Kuda Lumping kesurupan sudah menjadi kejadian yang lumrah sekaligus menegangkan. Hal mistis itulah yang menjadikan Kuda Lumping mencuri setiap perhatian dari para penontonnya. Perasaan ngeri sekaligus penasaran akan apa yang terjadi setelahnya. Hal itu membuat kita tertarik untuk terus menonton pertunjukkan hingga akhir dengan perasaan yang mendebarkan. Saat salah satu atau para pemain sudah mulai kerasukan dalam pertunjukkan Kuda Lumping. Hal itu menandakan mereka sedang berkomunikasi dengan arwah nenek moyang. Dan para penonton akan melihat aksi-aksi di luar nalar manusia biasa, dimana para pemain menjadi kebal terhadap benda tajam. Hal tersebut bisa memperlihatkan hal seperti memakan benda berbahaya misalnya saja beling atau silet. 4. Dimainkan Secara Kelompok – Kesenian Kuda Lumping Mengulas lebih dalam tentang para pemain Kuda Lumping, dalam setiap pertunjukkannya. Kita akan melihat jumlah para pemain berkisar 10 hingga 35 orang. Dengan 2 orang sebagai pembantu umum, 2 orang lain untuk menjaga dan 1 orang sebagai koordinator lapangan. Para pemain pun akan menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan pergi berperang dengan aksesoris pedang mainan. Biasanya mereka pun bertelanjang kaki selama pertunjukkan berlangsung. 5. Ada Ritual Pemanggilan Endang – Kesenian Kuda Lumping Dari semua pemain, ada 1 orang yang berperan sebagai koordinator atau pawang i yang nantinya akan menentukan kapan para pemain mulai beratraksi hingga kerasukan roh nenek moyang. Tidak semerta merta memerintahkan, tapi ia juga harus memanggil endang dari Kuda Lumping, yaitu energi yang bisa mempengaruhi pola pikir atau bisa dikatakan sugesti kepada para pemain serta meningkatkan kepercayaan diri mereka. Tidak mudah pula untuk memanggil endang Kuda Lumping, sang pawang memerlukan niat yang khusyu ketika membacakan mantra dan berkonsentrasi. Perlu diingat juga bila endang ini bukanlah sesosok makhluk halus. Melainkan lebih dekat kepada energi yang muncul dan timbul dari pikiran manusianya itu sendiri. 6. Banyak Kisah Menyelimuti Kuda Lumping – Kesenian Kuda Lumping Selain berbicara tentang kemistisan para pemain yang kebal sakti mandraguna ketika mengendarai kudanya. Tenyata banyak kisah yang menceritakan tentang Kuda Lumping. Salah satunya kisah Kuda Lumping yang menjadi refleksi dari perjuangan Raden Patah, dimana sang Raden mendapatkan bantuan dari Sunan Kalijaga. Ada pula cerita yang mengaitkan Kuda Lumping dengan kisah latihan perang pasukan Mataram. Yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono I, yang menjadi Raja Mataram demi bisa bertahan melawan pasukan Belanda kala itu. Bahkan tidak sedikit yang menghubungkan Kuda Lumping dengan tarian Reog Ponorogo serta Jaran Kepang dalam cerita Songgolangit. 7. Kuda Lumping Memiliki Makna Heroisme – Kuda Lumping Selain hal mistis yang menyelimuti pertunjukkan Kuda Lumping, ada pula sejarah-sejarah atau asal muasalnya pertunjukkan ini dengan berbagai kisah. Nyatanya kesenian tradisional Indonesia ini juga memiliki makna heroisme di dalamnya. Ditambah dengan kemiliteran yang lekat dengan pasukan kuda atau kavaleri. Hal ini sudah bisa kita lihat dalam setiap para pemain dan gerakannya yang dinamis, mengikuti ritme, tetapi masih tetap agresif melalui kibasan kuda bambu dan pecutnya. Gerakannya pun layaknya pertempuran pasukan kuda dalam peperangan dengan jiwa yang menggebu-gebu. Baca juga Ini Lho 9 Jenis Batik Indonesia Terpopuler Dan Asal Usulnya7 Nama-Nama Buah Asli Indonesia yang Paling EksotisCobalah 9 Cara Menghilangkan Perasaan Kangen Mantan30 Model Kain Batik Khas Indonesia yang Wajib Diketahui Dari semua penjelasan mengenai asal usulnya Kuda Lumping dan juga kemistisan yang menyelimuti pertunjukkan tradisional ini, akan membuat kita sedikit rindu sekaligus antusias ketika melihat pertunjukkan dimana para pemainnya bisa melakukan apapun. Menjadi cerita tersendiri kepada mereka yang lebih muda dengan kita, bagaimana perasaan kita saat melihat orang kerasukan dan memakan
TariKuda Lumping adalah tari tradisional yang berasal dari Yogyakarta. Ciri khas tarian ini adalah banyaknya properti yang digunakan. Terdapat perbedaan penyebutan nama di beberapa daerah lain, seperti di Banyuwangi disebut dengan tari jaranan Buto, Surabaya Disebut Jaran Kepang, dan lain-lain.Keunikan tarian ini adalah penampilan salah satu penari yang biasanya ditampilkan secara bebas.
Connection timed out Error code 522 2023-06-14 170447 UTC What happened? The initial connection between Cloudflare's network and the origin web server timed out. As a result, the web page can not be displayed. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not completing requests. An Error 522 means that the request was able to connect to your web server, but that the request didn't finish. The most likely cause is that something on your server is hogging resources. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d7426cac9ab0e37 • Your IP • Performance & security by Cloudflare TRIBUNPONTIANAKCO.ID, LANDAK - Sebanyak 98 Desa dari 156 Desa yang ada di Kabupaten Landak, akan melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak pada bulan September tahun 2022 ini.. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Landak Mardimo SE MM beberapa waktu lalu menerangkan. Pilkades tahun 2022 mengacu pada Permendagri nomor 72 tahun 2020 tentang perubahan Foto befotowork/ – Kerajinan rotan, sudah amat dikenal oleh publik Indonesia. Banyak sekali barang keperluan sehari-hari masyarakat Indonesia yang berbahan dasar dari rotan. Tidak hanya itu, rotan pun dipakai sebagai bahan dasar barang seni yang menjadi andalan salah satu tarian tradisional masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Pulau Jawa. Tarian tersebut adalah kuda lumping. Tarian ini memakai anyaman rotan yang berbentuk kuda namun tanpa kaki sebagai ciri khas dari pertunjukkannya. Kuda Lumping dimainkan oleh 2 orang minimal hingga 8 orang laki-laki, kecuali di Jawa Timur yang saat ini sudah dimainkan oleh para penari perempuan. Pada kuda lumpingnya, terdapat hiasan berupa rambut berasal dari tali yang digelung atau dikepang. Oleh karena itu, di Jawa Tengah tarian ini dikenal dengan nama jaran kepang. Di Jawa Barat, sendiri dikenal dengan nama Kuda Lumping. Sedangkan di Jawa Timur dikenal dengan nama jathilan. Asal Usul Ada beberapa versi menyangkut sejarah munculnya tarian ini. Ada yang mengatakan bahwa seni tradisional ini lahir dari dukungan rakyat jelata terhadap Pangeran Diponegoro yang berperang melawan kekuatan kolonial Belanda. Ada juga yang mengatakan bahwa tarian ini muncul di era Kerajaan Mataram saat pasukan penunggang kuda yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I berperang melawan penjajah Belanda. Versi lain mengatakan bahwa tarian Kuda Lumping adalah cerminan dari perjuangan Raden Fatah yang didampingi Sunan Kalijaga melawan penjajah Belanda. Sementara versi dari Jawa Timur, yang penulis duga merupakan dasar penamaan tarian ini, lahirnya jathilan berhubungan dengan kisah pasukan yang terdiri atas para pemuda rupawan bergelar Jathil yang menunggang kuda putih dengan rambut, ekor, dan sayap emas. Pasukan tersebut membantu Kerajaan Bantarangin dalam peperangan melawan pasukan penunggang babi hutan dari Kerajaan Lodaya. Riwayat ini didapatkan dari serial legenda Reog abad ke-8. Dari versi-versi di atas, dapat dilihat benang merah tarian ini, yaitu tentang semangat heroik dari pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini nampak jelas dari gerakan-gerakan lincah dan agresif, baik dalam gerak tubuh maupun kibasan anyaman bambu kuda lumping, yang mencerminkan gerakan penunggang dengan kudanya di tengah peperangan. Pagelaran Tarian tradisional ini biasa dipertunjukkan di acara-acara khusus, seperti penyambutan tamu kehormatan, sunatan, dan lain-lainnya. Para senimannya juga kadang berkeliling dari satu wilayah ke wilayah lain. Bila mendapatkan tanah lapang, mereka akan menggelar kesenian ini. Tarian ini kadang pula dipertunjukkan di sebuah wilayah tertutup, tetapi dengan mengambil jarak terpisah antara pemain dengan penonton. Baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah, tarian ini juga mengikutsertakan atraksi mistis dari para penari yang diawasi oleh dukun. Mereka menari diiringi dengan musik tradisional, seperti angklung, gong-gong, , drum-drum dog-dog, kendang, gamelan pelog, kenong, dan terompet khas kuda lumping ada juga yang memordernisasikan peralatan musiknya dengan menambahkan musik pengiring, seperti drum, gitar dan bas elektrik guna menampilkan sound musik yang bagus. Mantra-mantra pun dibacakan hingga para penari kesurupan. Pecutan cambuk menjadi tanda bahwa para penari sudah kerasukan roh halus. Atraksi-atraksi pun dimulai. Macam-macam yang dilakukan, namun kesemua laga ini bukanlah tindakan yang normal. Ada yang memakan rumput, mengunyah kaca, menyayat lengan dengan pisau, dibacok dengan golok, mengangkat benda berat, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dipecut oleh cambuk, mengupas sabuk kelapa dengan gigi, dan lain sebagainya. Atraksi ini dipertontonkan dengan maksud untuk memperlihatkan kekebalan tubuh penari-penari tersebut pada saat kesurupan. Ada pula yang menari dengan menaiki kuda anyaman lantas melompat-lompat, berjingkrak-jingkrak, hingga berguling-guling di tanah. Di wilayah Bali, tarian ini dikenal dengan nama Sang Hyang Jaran karena roh yang memasuki para penari diidentifikasi sebagai hyang. Di wilayah ini pula, para penonton dapat terlibat di dalam kor nyanyian untuk mengiringi tarian ini. Sedangkan di beberapa wilayah lainnya, para penari menjadi mediator pengiriman pesan dari alam gaib bagi siapa saja yang membutuhkan ramalan. Kesemua aksi ini dipandu oleh dukun yang menggunakan cambuk yang dipukulkan ke tanah. Setelah mereka sadar dari kesurupan, para penampil mengatakan kalau mereka tidak ingat apa pun yang telah mereka lakukan saat pertunjukan. Tampaknya atraksi ini merupakan cerminan dari kekuatan supranatural yang digunakan oleh pejuang-pejuang di lingkungan kerajaan Jawa, sebagai modal kekuatan non-militer guna melawan pasukan Belanda. Pada pertunjukan Kuda Lumping di jalanan, para penari mendekati penonton dengan maksud meminta uang secara sukarela. Jathilan Di Jawa Timur, tarian yang disebut jathilan ini menjadi bagian dari pagelaran Reog Ponorogo. Jathil adalah para penunggang kuda yang muda nan rupawan. Namun tidak seperti jaran kepang, jathilan bukanlah suatu tontonan tarian mistik dengan atraksi-atraksi tak biasa seperti yang telah disebutkan di atas. Secara tradisional tarian jathilan digelar dengan gemblakan. Perlengkapan Selain kuda anyaman berbahan rotan untuk orang-orang dewasa dan bambu untuk anak-anak sebagai perlengkapan utama, para penarinya memakai kostum warna-warni dengan dekorasi manik-manik. Terkadang mereka menggunakan baju yang mengesankan baju ketentaraan. Mereka juga memakai bel-bel kecil yang berbunyi halus di sekitar pergelangan kaki. Perhiasan ini betul-betul menambah seru keriuhan pertunjukan, terutama bila sang penari sudah kesurupan lantas ia bergerak menari, melompat-lompat, dan berjingkrak-jingkrak. Tak lupa pula hiasan di kepala. Kostum para penari, jelas lebih feminin ketimbang kostum sang dukun. Respon Publik Tarian kuda lumping dikenal luas. Tetapi publik Indonesia mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai kesenian ini. Ada yang memandang bahwa pagelaran ini adalah pertunjukan setan, dan oleh karenanya musyrik sesat karena menyamakan kekuatan Tuhan. Di waktu kecil, pertunjukan ini pernah dibubarkan oleh sesepuh daerah di mana penulis tinggal karena dianggap sesat. Pembubarannya persis di saat atraksi mistis tengah dilakukan oleh para pemain. Meski begitu, ada pula yang memandangnya sebagai kekayaan budaya Indonesia, yang merupakan warisan dari nenek moyang dan tidak ada kaitannya dengan kesesatan. Kini, tarian kuda lumping juga telah berkembang ke Suriname, Malaysia, dan Singapura. .
  • o3n9nun41a.pages.dev/105
  • o3n9nun41a.pages.dev/311
  • o3n9nun41a.pages.dev/396
  • o3n9nun41a.pages.dev/140
  • o3n9nun41a.pages.dev/489
  • o3n9nun41a.pages.dev/282
  • o3n9nun41a.pages.dev/372
  • o3n9nun41a.pages.dev/294
  • daftar nama nama endang kuda lumping